Fatawa Seputar Perayaan Tahun Baru (Masehi dan Muharram) Ust Abu Muawiyah

Fatawa Seputar Perayaan Tahun Baru (Masehi dan Muharram)
Perlu diketahui bahwa pengkhususan hari-hari tertentu, atau bulan-bulan tertentu, atau tahun-tahun tertentu sebagai hari besar/hari raya (id) adalah kembalinya kepada penentuan dari syari’at, bukan kepada adat kebiasaan dan kesepakatan manusia. Oleh karena itu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira padanya, maka beliau bertanya, “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab, “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah. Maka Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“ Haditsnya akan datang
Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya. Demikian keterangan dari Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin –rahimahullah dalam Majmû Fatâwâ wa Rasâ`il pertanyaan no. 8131
Karenanya perayaan tahun baru ini tidak pernah ada pada zaman Nabi -alaihishshalatu wassalam-, para sahabatnya bahkan sampai empat abad setelahnya. Perayaan ini termasuk perayaan yang dimunculkan oleh khilafah Al-Fathimiyyun pada abad ke-4 hijriah atau tepatnya tahun 362 H. (more…)
Bookmark and Share

FATWA MAJLIS ULAMA INDONESIA Tentang Perayaan Natal Bersama

FATWA

MAJLIS ULAMA INDONESIA

Tentang Perayaan Natal Bersama

Memperhatikan :

Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalah-artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad saw.(1)

Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal.

Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah. (more…)

Bookmark and Share

Nasihat Imam Besar Masjidil Haram – Syaikh Dr.Abdurrahman As-Sudais

Nasihat ini disampaikan pada sebuah muhadhoroh di Masjid Baitul Ihsan – Bank Indonesia pada tanggal 16 Desember 2004.

Kita bersyukur kepada Alloh atas pertemuan ini, di salah satu Rumah Alloh, Masjid Bank Sentral Indonesia Jakarta. Pertemuan ini adalah karena kecintaan kepada Alloh dan persaudaraan Islamiyyah dan Imaniyyah. Inilah nikmat-Nya yang besar dan berharga. Kalaulah tiada taufik dan pertolongan-Nya, maka tidaklah sempurna pertemuan dan perjumpaan ini.
Kemudian kami ucapkan terima kasih kepada pengurus Masjid Baitul Ihsan ini dan jamaah yang sangat antusias untuk menyelenggarakan pertemuan ini. Semoga Alloh membalas jerih payah mereka, memperindah setiap langkah dan memberkati setiap usaha ini.
Sesungguhnya saya dari tempat turunnya wahyu dan risalah, Makkah Al Mukarromah, tetangga Ka’bah, tetangga Masjid Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, menyampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada jamaah semua dan saya menyambut kecintaan dengan kecintaan, kasih sayang dengan kasih yang yang seluas-luasnya. Kita bersyukur kepada Alloh yang telah mengumpulkan kita dalam persaudaraan Islamiyyah dan percintaan Imaniyyah. Semoga Alloh menjadikan pertemuan ini sebagai pertemuan yang baik dan diberkahi. (more…)
Bookmark and Share